Aktivitas Gunung Awu Didominasi Gempa Vulkanik Dangkal, Badan Geologi: Masyarakat Diminta Tetap Waspada
News Tahuna — Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) melaporkan bahwa aktivitas kegempaan Gunung Awu di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, masih terpantau cukup tinggi dan didominasi oleh gempa vulkanik dangkal.
Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid A.N. menjelaskan, hasil pengamatan instrumental pada periode 1–15 April 2025 menunjukkan peningkatan frekuensi gempa vulkanik dibandingkan bulan sebelumnya. “Kegempaan Gunung Awu selama periode tersebut didominasi oleh gempa vulkanik dangkal, disusul gempa vulkanik dalam dan gempa tektonik jauh,” ujarnya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (16/5/2025).
Secara rinci, dalam periode pengamatan itu, terekam 4 kali gempa frekuensi rendah, 345 kali gempa vulkanik dangkal dengan rata-rata 23 kejadian per hari, 16 kali gempa vulkanik dalam, 6 kali gempa tektonik lokal, serta 323 kali gempa tektonik jauh.
Menurut Wafid, energi gempa-gempa vulkanik secara keseluruhan menunjukkan pola fluktuatif, berdasarkan hasil pengukuran nilai RSAM (Real Time Seismic Amplitude Measurement). Hal ini menunjukkan masih adanya dinamika aktivitas di bawah permukaan kawah Gunung Awu, meskipun belum mengarah pada peningkatan signifikan yang berpotensi erupsi.
“Nilai RSAM memperlihatkan naik-turun aktivitas, namun belum ada anomali ekstrem. Kami tetap memantau secara ketat untuk mendeteksi setiap perubahan signifikan dalam sistem vulkanik Gunung Awu,” tambahnya.
Gunung Awu yang memiliki ketinggian sekitar 1.320 meter di atas permukaan laut (mdpl) merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia bagian timur. Gunung ini memiliki sejarah letusan besar, di antaranya pada tahun 1966 dan 2004, yang menimbulkan dampak cukup luas di Pulau Sangihe.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih menetapkan status Level II (Waspada) bagi Gunung Awu. Masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana diminta tetap waspada dan tidak beraktivitas dalam radius dua kilometer dari kawah utama.
“Kami terus berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Kepulauan Sangihe, pemerintah daerah, dan pos pengamatan setempat untuk memastikan masyarakat memperoleh informasi yang cepat dan akurat,” tutur Wafid.
Ia juga mengimbau warga agar tidak mudah terpengaruh oleh kabar yang belum terverifikasi mengenai kondisi gunung. “Ikuti informasi resmi dari PVMBG, BMKG, atau pemerintah daerah setempat agar langkah mitigasi bisa tepat dan tidak menimbulkan kepanikan,” pungkasnya.




