Torang Baku Sayang: Kapitalaung Lenganeng & Istri Bikin Haru Panggung Festival Budaya Sangihe

by -81 Views

Festival Budaya Sangihe 2025 Tampilkan Harmoni Keberagaman di Tahuna

News Tahuna – Festival Budaya Sangihe 2025 resmi dibuka oleh Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, pada Jumat, 7 November 2025, di pusat kota Tahuna. Festival ini menampilkan berbagai pertunjukan seni dan budaya yang merefleksikan kekayaan tradisi lokal, sekaligus menjadi wahana pelestarian budaya Sangihe bagi generasi muda.

Acara ini dihadiri oleh pejabat pemerintah daerah, tokoh adat, perwakilan agama, pelajar, serta masyarakat umum. Rangkaian festival berlangsung selama tiga hari, menghadirkan pertunjukan tari tradisional, musik hadrah, pameran kerajinan tangan, serta lomba-lomba seni yang melibatkan kelompok pemuda dari berbagai kampung di kepulauan Sangihe.


Penampilan Mempesona Karang Taruna Kampung Lenganeng

Salah satu momen paling berkesan terjadi pada malam penutupan lomba, Minggu, 9 November 2025. Karang Taruna Kampung Lenganeng tampil menawan dalam lomba Hadrah Manggut, sebuah seni musik tradisional yang memadukan gerak dan irama alat musik rabana dengan vokal harmonis.

Dari sembilan peserta yang berlaga, kelompok ini sukses memukau penonton dengan keselarasan gerak dan harmoni musik yang rapi. Tidak hanya penampilan teknis yang memukau, tetapi komposisi anggotanya yang unik menjadi sorotan utama. Grup Hadrah Manggut ini terdiri dari anggota yang menganut tiga keyakinan berbeda: Penghayat Kepercayaan, Islam, dan Kristen.

“Yang menarik dari kelompok ini adalah mereka mampu menyatukan keberagaman dalam satu irama. Musik menjadi jembatan yang menyatukan perbedaan,” kata salah seorang penonton yang hadir malam itu.


Simbol Harmoni dan Toleransi

Lebih istimewa lagi, Kapitalaung Kampung Lenganeng, Hesky Sasundu, bersama istrinya yang beragama Kristen, turut tampil sebagai anggota kelompok. Hesky memegang peran sebagai penabuh rabana, sementara sang istri tampil anggun sebagai penari atau manggut. Penampilan mereka menjadi simbol nyata toleransi dan harmoni antarumat beragama di Sangihe.

Menurut Bupati Michael Thungari, Festival Budaya Sangihe bukan sekadar ajang lomba atau hiburan, tetapi juga medium edukasi budaya dan toleransi sosial. Ia menekankan pentingnya menjaga persatuan masyarakat melalui seni, karena keragaman keyakinan merupakan salah satu kekayaan yang harus dihormati dan dirayakan.


Dampak Sosial dan Budaya

Festival ini memberikan beberapa dampak positif bagi masyarakat Sangihe:

  1. Pelestarian Budaya Lokal: Generasi muda dilibatkan langsung dalam pertunjukan seni tradisional, sehingga nilai budaya tidak hilang seiring waktu.

  2. Penguatan Toleransi: Kehadiran kelompok dengan anggota dari berbagai keyakinan menegaskan bahwa seni dapat menjadi sarana memperkuat persatuan.

  3. Peningkatan Pariwisata dan Ekonomi Lokal: Festival ini juga menarik wisatawan lokal dan mancanegara, membuka peluang bagi pedagang, UMKM, dan industri kreatif di daerah.

  4. Partisipasi Komunitas: Masyarakat dari berbagai desa dan kampung dilibatkan, baik sebagai peserta maupun penonton, sehingga tercipta rasa kebersamaan dan identitas lokal yang kuat.


Penutup

Festival Budaya Sangihe 2025 berakhir pada Minggu malam dengan penyerahan hadiah bagi para pemenang lomba. Penampilan Karang Taruna Kampung Lenganeng menjadi salah satu momen yang paling diingat karena menyatukan keindahan seni dan pesan moral tentang persatuan dalam keberagaman.

Acara ini membuktikan bahwa Sangihe tidak hanya kaya akan alam dan tradisi, tetapi juga memiliki masyarakat yang mampu hidup rukun dan harmonis meskipun berbeda latar belakang dan keyakinan. Festival Budaya Sangihe 2025 di Tahuna diharapkan menjadi agenda tahunan yang memperkuat identitas budaya sekaligus menumbuhkan nilai toleransi di seluruh kepulauan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.